Setiap hari ahad ataupun hari biasa tetapi jam mengajar saya siang, saya selalu pergi keluar asrama untuk mencari sarapan, kadang bubur, serabi ataupun gorengan. Hari ahad kemarin, saya keluar mau membeli serabi, ibu-ibu penjual serabi langganan kami jualannya suka di samping kios baso. Mula-mula saya ga sadar, lama-lama saya kok ngerasa adem, ternyata masjid di samping kios baso menyetel murottal al quran hingga terdengar ke penjuru desa. Saya yang berada di situasi itu, merasakan sesuatu yang sulit diungkapkan. Bagaimana tidak, murottal alquran mengalun merdu di pagi yang syahdu, tampak anak-anak kecil bermain bola dengan riangnya di lapangan depan masjid, ibu-ibu mengerumuni mamang sayur yang sudah menggelar dagangannya dari shubuh, penjual ayam yang sedang memotong dan menimbang ayam di atas motornya, ibu-ibu penjual serabi memasukkan adoanan ke dalam cetakan serabi yang diletakkan di atas tungku, para pejalan kaki, para pengendara motor, hilir mudik berseliweran, semuanya berharmoni dengan alunan murottal al quran dari speaker masjid. Sungguh, semuanya bisa berdampingan dengan harmonis. Agama, ekonomi, pemerintahan.
Ingatan saya mengembara suatu tempat yang ingin saya kunjungi, Andalusia. Andalusia, ribuan tahun yang lalu, adalah contoh bahwa agama dan pengetahuan juga aspek lainnya bisa berdampingan, bahkan saling mendukung, membuat negara itu sempat dijuluki 'city of light', jauh sebelum Paris mendapat julukan yang sama sekarang.
Ah, kok jadi ngelantur ya, hehe. Saya suka sejarah, walaupun bukan ahli sejarah. Saya selalu melankolis kalau ngobrolin sejarah islam. Saya kadang suka berkhayal, seandainya punya kekuatan untuk pergi ke masa lalu untuk membuktikan keontetikan suatu histori, haha, kekanakkan banget ya. Apa mungkin itu ya yang menyebabkan saya susah move on, karena selalu berkutat dengan masa lalu :P
Pengikut
Selasa, 08 Maret 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar