Pengikut

Minggu, 13 Maret 2016

Tirta Indah

Setiap beberapa bulan sekali, anak-anak di asrama suka pergi renang, itung-itung refreshing juga. Biasanya kami mengambil hari minggu atau kalau ada tanggal merah. Kebetulan sudah agak lama mereka tidak renang, akhirnya tadi pagi kami berangkat kolam pemandian terdekat. Kali ini, kami memilih kolam pemandian yang ada di daerah Majalengka yang berbatasan dengan Kuningan. Nama kolam renangnya Tirta Indah. Sudah lama kami tidak kesini, mungkin hampir dua tahun. Selama itu kami biasanya memilih kolam pemandian yang ada di daerah Cirebon. Jarak dari pondok kami kesana lumayan dekat, sekitar 45 menit. Tadi kami berangkat jam 10.00 WIB, kami sampai disana jam 10.45 WIB. Lalu, anak-anak mengantri untuk dihitung ada berapa orang dalam rombongan kami. Biasanya kalau datangnya rombongan suka diberi potongan dari harga tiket reguler. Harga tiketnya lumayan murah umtuk dewasa Rp 15.000,-, sedangkan untuk anak-anak Rp 10.000,-.

Harganya murah kan untuk kantong kita :)
Bapak-bapak penjaga tiket


Kebetulan hari Minggu, tadi kami kesana penuh sekali. Mau parkir pun susah, apalagi pas masuk ke dalam, wah...kolam sudah sesak sama manusia.

Parkiran


Saya suka tempat ini

Anak-anak

Pemandangan dari atas
Sebelum berangkat, saya sudah berencana untuk tidak turun ke kolam, setelah melihat situasinya saat itu, saya tidak menyesal dengan keputusan saya :) Saya dan teman saya yang ikut mendampingi hanya photo-photo dan keliling-kelilingg area kolam. Selain menyediakan fasilitas kolam renang, Tirta Indah juga menyediakan fasilitas bermain untuk anak-anak, seperti kolam bola, kincir air, kereta-keretaan. Disana juga ada kebun binatang mini, tapi yang saya jumpai hanya merak saja.Menurut saya, wahana-wahana itu kurang terpelihara, kesan yang didapat ketika kesana adalah kumuh, seolah-olah sudah ga terpakai lagi. Saya ngebayangin kalau malam pasti seram sekali disana. Hiiiiyyyyy.......
Kincir air

Rel kereta

Sayang, ekor meraknya lagi ga mekar :(
 
Ada satu lagi wahana yang ada disana, tempatnya terpisah dengan wahana anak-anak. Yaitu, wahana perahu dayung. Dan ini satu-satunya wahana yang kami naiki (ya iyalah, masa udah emak-emak masih mandi bola :D ). Wahana perahu dayung ini di samping kolam terapi ikan. Maksimal orang yang menaikinya empat orang, kami pendamping tiga orang dan satu lagi kami mengajak anak. Ada kejadian menarik yang membuat kami terus tertawa. Setelah kami berempat menaiki perahu dan mulai mendayung, kira-kira baru lima meter, perahu yang kami dayung terus saja berputar di tempat, tidak maju-maju. Dasar emak-emak katro, kami semuanya belum punya pengalaman mendayung. Dayung kanan, dayung kiri, dayung depan, dayung belakang, tetap saja perahunya hanya muter-muter saja. Kami terus mencoba sambil ketawa-ketawa, ditambah malu juga diliatin banyak orang bahkan ada yang mengambil gambar kami :D Akhirnya setelah berusaha hampir 15 menit, perahu kami bisa melaju juga :) Sayangnya, saya tidak mengabadikan momen itu :D
Setelah anak-anak makan siang, bersih-bersih, shalat dzuhur, kami pun pulang kembali ke asrama. Kami tiba menjelang ashar. Itu cerita saya hari ini, mana ceritamu :D Insya Allah, kalau saya lagi mood, saya akan menceritakan kegiatan-kegiatan kami disini, sebuah tempat yang masih sejuk di lereng gunung Ciremai :)
Sedikit me-review tempat yang saya kunjungi hari ini. Sebelumnya saya minta maaf kalau ada yang kurang berkenan, ini hanya pendapat subyektifitas saya. Semoga bermanfaat. Seperti yang telah saya singgung sedikit di atas, ada beberapa wahana yang kurang terurus dan terkesan kumuh. Andai lebih dipercantik lagi, rumput-rumputnya dipangkas, itu bisa meningkatkan nilai jual. Kolamnya juga menurut saya agak kotor, entah karena sedang banyak pengunjung atau penyebab lainnya. Tetapi, terlepas dari itu semua, saya mengapresiasi kepada pemilik kolam pemandian, karena telah menyediakan kolam pemandian yang 'ramah' bagi kami, masyarakat menengah ke bawah, menjadi sarana hiburan tersendiri. Kolam pemandian dengan seluncurannya, ember yang kalau sudah terisi penuh jadi tumpah ke bawah (entah apa istilahnya :D) dan segala macam wahana yang biasa dilihat di televisi, yang tiket masuknya saja bisa sejumlah indeks pendapatan kami sebulan. Kok, jadi curcol ya, hehe. Oke, kesimpulannya so far so good. Kalau anda, khususnya yang tinggal di Kuningan Utara sedang mencari tempat rekreasi untuk keluarga yang terjangkau denan kantong anda, tempat ini bisa dimasukkan ke list anda :)
 
 
 

 
 
 
 
 

Sabtu, 12 Maret 2016

Awalnya, saya berniat meresensi buku 'Rihlah Ibnu Bathuthah', berhubung saya belum selesai membacanya, saya mau posting sedikit tentang biodata beliau dan tentang buku ini, tapi bukan isinya ya :)
Buku ini adalah buku tentang memoar Ibnu Bathuthah setelah menjelajahi berbagai negeri, semacam diary perjalanan. Beliau mendiktekan kisahnya kepada Ibnu Juzai, muridnya. Di lembaran pengantar penerbit dan penerjemah dikatakan, sebagai memoar perjalanan, selain unsur obyektifitas juga ada unsur subyektifitas dari Ibnu Bathuthah. Walaupun begitu, masih banyak hikmah yang bisa kita ambil dari buku ini.

"Namanya adalah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim Al-lawati Ath-Thanji, Abu Abdullah, Ibnu Bathuthah, traveller (sang pelancong), dan ahli sejarah.
Ibnu Bathuthah lahir dan tumbuh menjadi remaja di Thanjah (Tangier), tahun 703 H bertepatan dengan tahun 1304 M. Pada tahun 725 H, ia meninggalkan negerinya, berkeliling di negeri-negeri seperti Maroko, Mesir, Syam, Hijaz, Irak, Persia, Yaman, Bahrain, Turkistan, maa waraa' nahr (transoxania), sebagian wilayah India, Cina, Jawa (Nusantara), Tartar, dan AfriKa Tengah.
Dalam rihlahnya itu, Ibnu Bathuthah bertemu dengan banyak raja dan amir. Ia memuji mereka dalam bait-bait syair. Dengan hadiah dan bekal yang diberikan para raja dan amir itu, dia melanjutkan rihlah ke pelbagai negeri yang lain. Kemudian dia kembali ke Maroko dan menjadi orang kepercayaan Sultan Abu Inan, salah satu raja Bani Marin. Dia menetap di negeri itu dan mendiktekan catatan dan kisah perjalanannya untuk ditulis ulang oleh Muhammad Ibnu Juzai Al-Kalbi di kota Fez pada tahun 756 H. Buku itu diberinya judul Tuhfah An-Nuzhzhaar fi Gharaa'ib Al-Amshaar wa 'Ajaa'ib Al-Ashfaar. Buku inilah yang sekarang berada di hadapan anda.
Catatan perjalanan ini telah diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa asing: seperti  Inggris, Prancis, dan Portugis, serta disebarluaskan di negeri-negeri itu. Sebagian isinya ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan disebarluaskan di negeri itu.
Ibnu Bathuthah menguasai bahasa Turki dan Persia. Rihlahnya menghabiskan waktu selama 27 tahun, mulai tahun 1325 hingga 1352. Ibnu Bathuthah meninggal di Marakesh tahun 779 H, bertepatan dengan tahun 1377 M. Penting untuk diketahui bahwa Universitas Cambridge dalam buku dan atlas terbitannya menyematkan kepada Ibnu Bathuthah sebuah gelar "Pemimpin Pelancong Muslim."
Rihlah Ibnu Bathuthah_hal xvii-xviii

Nah, itu sedikit biodata dan keterangan singkat tentang Ibnu Bathuthah. Semoga bermanfaat :)

p.s: maaf kalau agak kurang nyaman membacanya, tipe hurufnya agak berantakan :) sayaa nulisnya di hp (ngeles :P padahal gaptek)

Jumat, 11 Maret 2016

Rihlah Ibnu Batutah

Sejak saya mengenal sejarah Islam lebih luas lagi, bukan 'hanya' cerita nabi-nabi saja. Saya selalu terobsesi untuk mengetahui ceritanya lebih mendalam lagi, bukan sekedar riwayat singkat di buku-buku sekolah. Salah satunya tentang Ibnu Batutah. Saya mendengar nama beliau sudah lama, di buku-buku sekolah. Itupun hanya sekilas, jadi figuran saja. Padahal yang saya dengar, beliau adalah seorang traveler muslim yang kehebatannya melebihi Columbus. Saya berusaha mencari buku tentang beliau di salah satu toko buku terbesar di Indonesia, tetapi kami belum berjodoh. Seiring berjalannya waktu, keinginan itu perlahan hilang. Saya mulai berburu buku-buku yang lain.
Tetapi, takdir mempertemukan kami (ceileeeh...bahasanyaa :P ) ceritanya begini :
Beberapa hari yang lalu, dosen saya memposting hasil 'buruan' beliau di IBF. IBF adalah Islamic Book Fair, pameran ini adalah pameran buku terbesar se-Asia Tenggara. Yang namanya pameran buku otomatis berbagai macam buku dari berbagai penerbit tumplek disini. Kembali lagi ke dosen saya, nah di photo yang beliau upload di fb, ada satu judul yang menarik perhatian saya yaitu 'Rihlah Ibnu Batutah'. Kemudian, saya bertanya kepada beliau, "maaf pak, kalau buku Rihlah Ibnu Batutah darimana belinya?"
"Bapak beli di IBF, Rin", jawab beliau.
"Di stand mana pak?" tanya saya lagi.
"Wah, bapak lupa Rin. Tapi, bapak belinya di stand yang di lorong, bukan yang di dekat panggung utama".
Itulah sedikit percakapan kami. Kemudian, saya menghubungi beberapa teman yang sekiranya mau ke IBF untuk saya titipi, kebetulan di tempat saya mengajar sedang ujian tengah semester, jadi saya tidak bisa kesana. Karena, satu dan lain hal saya juga tidak bisa nitip ke teman :(
Pada hari senin kemarin, tiba-tiba saya kepikiran sesuatu, "hey Rin, sekarang zamannya sudah canggih, kenapa tidak kau manfaatkan". Oh iya ya, haha, akhirnya saya cari di mesin pencari Google, dan.....alhamdulillah ternyata ada yang jual di salah satu situs jual beli online. Saya langsung transaksi, bayar lunas, untung ongkirnya gratis :) duduk manis menunggu paketan datang. Alhamdulillah...kemarin paketnya sudah sampai dan hari ini sudah di tangan saya. Dan...mari kita berpetualang..... :)

Selasa, 08 Maret 2016

Setiap hari ahad ataupun hari biasa tetapi jam mengajar saya siang, saya selalu pergi keluar asrama untuk mencari sarapan, kadang bubur, serabi ataupun gorengan. Hari ahad kemarin, saya keluar mau membeli serabi, ibu-ibu penjual serabi langganan kami jualannya suka di samping kios baso. Mula-mula saya ga sadar, lama-lama saya kok ngerasa adem, ternyata masjid di samping kios baso menyetel murottal al quran hingga terdengar ke penjuru desa. Saya yang berada di situasi itu, merasakan sesuatu yang sulit diungkapkan. Bagaimana tidak, murottal alquran mengalun merdu di pagi yang syahdu, tampak anak-anak kecil bermain bola dengan riangnya di lapangan depan masjid, ibu-ibu mengerumuni mamang sayur yang sudah menggelar dagangannya dari shubuh, penjual ayam yang sedang memotong dan menimbang ayam di atas motornya, ibu-ibu penjual serabi memasukkan adoanan ke dalam cetakan serabi yang diletakkan di atas tungku, para pejalan kaki, para pengendara motor, hilir mudik berseliweran, semuanya berharmoni dengan alunan murottal al quran dari speaker masjid. Sungguh, semuanya bisa berdampingan dengan harmonis. Agama, ekonomi, pemerintahan.
Ingatan saya mengembara suatu tempat yang ingin saya kunjungi, Andalusia. Andalusia, ribuan tahun yang lalu, adalah contoh bahwa agama dan pengetahuan juga aspek lainnya bisa berdampingan, bahkan saling mendukung, membuat negara itu sempat dijuluki 'city of light', jauh sebelum Paris mendapat julukan yang sama sekarang.
Ah, kok jadi ngelantur ya, hehe. Saya suka sejarah, walaupun bukan ahli sejarah. Saya selalu melankolis kalau ngobrolin sejarah islam. Saya kadang suka berkhayal, seandainya punya kekuatan untuk pergi ke masa lalu untuk membuktikan keontetikan suatu histori, haha, kekanakkan banget ya. Apa mungkin itu ya yang menyebabkan saya susah move on, karena selalu berkutat dengan masa lalu :P

Kau menggenggam tanganku
Erat
Terus menggenggam
Seolah tak ingin melepaskannya lagi
Kau tersenyum padaku
Membuat hangat hatiku
Membuatku merasa nyaman di dekatmu

Tiba-tiba aku tersadar
Ternyata itu hanyalah mimpi
Lagi
Tetapi, kenapa itu terasa nyata bagiku
Jauh di lubuk hatiku, jauh di alam bawah sadarku, apakah aku masih
?
?
?

Sabtu, 05 Maret 2016

Anxiety?

Beberapa waktu lalu, salah satu guru terbaik saya meninggal dunia. Meninggalnya 'mendadak' sekali. Kata orang, beliau meninggal karena angin duduk. Angin duduk adalah istilah orang awam untuk serangan jantung mendadak. Entah kenapa, semenjak saat itu, pikiran saya selalu dihantui tentang angin duduk dan meninggal dunia. Bukan pikiran seperti biasanya, tetapi semacam ketakutan yang sangat membelenggu. Ketika pikiran seperti itu muncul, saya selalu merasa sakit dada ataupun sesak napas. Saya merasa bahwa saat itu saya akan meninggal dunia. Pikiran itu selalu membuat saya tidak nyaman dan tidak fokus beraktifitas dan bekerja. Dia datang tak terduga dan bisa kapan saja. Mula-mula pikiran itu jarang munculnya, paling dalam sebulan muncul sekali selama beberapa hari. Semakin kesini, pikiran itu semakin sering muncul, seminggu sekali dan yang paling parah beberapa waktu lalu, hampir setiap hari saya selalu dihantui pikiran seperti itu. Saya sangat tersiksa sekali. Seakan-akan kepala saya diselimuti awan gelap yang melingkupi dan membelenggu saya.
Sebenarnya, umat Islam dianjurkan untuk dzikrul maut atau mengingat kematian, agar kita beribadah semakin lebih baik lagi, karena kehidupan ini tidaklah abadi. Kita semua pasti akan meninggal dan apa yang kita lakukan di dunia akan dimintai pertanggungjawabannya kelak dan tentunya akan ada balasannya.
Akan tetapi, yang saya alami beberapa waktu lalu saya yakin itu bukanlah dzikrul maut seperti yang telah dianjurkan. Kenapa? Karena, pikiran itu malah membuat saya tidak fokus beraktifitas, mengajar, membaca al-quran, berjamaah. Bayangkan saja, ketika sedang mengajar tiba-tiba pikiran itu muncul, saya berpikir bahwa saya akan meninggal saat itu. Begitu pula, ketikaa sedang jamaah, bukannya khusyu' ke bacaan-bacaan shalat, saya malah sedang dibayang-bayangi kematian. Hal itu membuat saya semacam mencari pelarian, supaya pikiran itu hilang. Biasanya, saya main internet, kadang baca komik ataupun nonton. Saya jadi males ke masjid karena takut pikiran-pikiran itu muncul lagi. Apakah dzikrul maut seperti itu? Puncaknya sekitar semingguan yang lalu, ketika pikiran itu sedang muncul, saya pun mencari pelarian lain, nonton film. Anehnya, ga bekerja seperti biasanya, itu membuat pikiran-pikiran itu semakin menjadi-jadi, apakah saya akan meninggal saat ini? Pertanyaan itu terus bermunculan di benak saya, saya ingin menangis dan menjerit, harus gimana lagi. Malamnya, saya cerita kepada guru senior di tempat saya bekerja tentang keadaan yang sedang saya alami. Kemudian, beliau menasehati saya, bahwa itu hanyalah sugesti saja yang datang daari setan. Sebenarnya, saya stau bahwa pikiran itu hanya sugesti saja, mungkin saya hanya butuh tempat untuk berbagi. Setelah curhat itu, awan gelap yang seolah-olah melingkupi saya, perlahan menghilang.
Saya penasaran tentang pikiran-pikiran itu, pasti ada istilah psikologisnya. Saya pun bertanya ke seorang psikolog terkenal melalui akun fb beliau. Kata beliau, gejala yang saya alami secara umum disebut anxiety, dan saya disarankan untuk konsultasi ke psikolog terdekat. Setelah cari di google, anxiety adalah istilah untuk orang yang punya kecemasan berlebihan terhadap sesuatu. Sekarang, saya sedang mencari psikolog terdekat dari tempat saya tinggal. Hasil konsultasinya nanti di postingan selanjutnya, insya Allah. :)