01 April 2014. Tanggal ini akan selalu saya ingat. Karena, di hari itu saya mendapat teguran dari Allah.
Ceritanya begini, kalo ga salah tanggal 1 April waktu itu adalah hari selasa. Nah, pada hari seninnya kebetulan tanggal merah, kami para pengasuh dan anak jalan-jalan ke paniis. Kami berangkat jalan kaki dan pulang dengan menyewa angkot. Wah, kebayangkan capenya. Anak-anak juga langsung 'tepar' malamnya. Pada malam harinya, sebelum tidur, saya main fb dulu di hp. Tak lama kemudian, saya pun tidur. Pagi harinya, sekitar jam tujuh, saya mau beres-beres kamar. Membuka jendela, menyapu, ngepel. Pada saat membuka jendela ada yang agak aneh, jendelanya udah kebuka dan diganjal sama sama baju bekas. Saya belum berprasangka apa-apa, saya menyangka teman saya sudah membukanya. Ohya, disini kami tinggal bertiga. Kemudian, setelah selesai beres-beres, saya mau merekap administrasi pendaftaran santri baru, kebetulan tahun itu saya adalah panitia penerimaan santri baru. Saya bertanya pada teman yang kemarin piket, ada santri yang daftar, saya menanyakan uang pendaftarannya. Jawabnya, sudah disimpan di atas lemari. Saya cari ga ada, bahkan sampai ke sela-sela lemari, takut jatuh. Ga ada. Saya tanya lagi ke teman takut dia salah ingat, dia juga keukeuh kalau uangnya sudah disimpan di atas lemari saya. Ya sudahlah, batin saya kala itu. Nanti juga kalo rizkinya pasti ketemu. Atau kalo tidak nanti digantiin.
Kemudian, teman saya yang satu lagi, mendengar saya ribut-ribut nyari uang, dia langsung memeriksa kantong tempat menyimpan uang bendahara, kebetulan waktu itu dia jadi bendahara sementara, menggantikan bendahara yang sedang cuti melahirkan. Tiba-tiba, dia berkata dengan panik, kalau uang yang disimpan tidak ada, dicari lagi takut salah nyimpen, tetap ga ada. Ting...kami langsung teringat barang berharga kami yang lainnya. Laptop. Laptop itu disimpan di atas kasur. Dan, letak kasurnya persis di bawah jendela. Kemudian, kami langsung mencari laptop, hasilnya tetap nihil. Kami langsung sadar, bahwa kamar kami disatroni maling. Kebetulan jendela kamar kami pada malam itu ga dikunci, dibiarkan terbuka lebar. Kami lengah, karena kami merasa aman-aman saja selama ini, bahkan pintu pun jarang dikunci. Saya langsung teringat pada kain bekas yang mengganjal jendela. Saya tanyakan pada teman saya apakah mereka yang meletakkan kain itu. Dua-duanya menjawab tidak. Akhirnya, saya tahu dia lewat mana, karena kebetulan pintu dikunci, jadi keluar masuknya lewat jendela. Diganjal dengan kain mungkin takut berisik dan kami terbangun.
Ada banyak pelajaran dalam peristiwa itu :
1. Kita harus selalu waspada. Dimana pun dan kapan pun. Pastinya waspada yang sewajarnya.
2. Rasa memiliki yang sewajarnya. Ketika teman saya yang tinggal di Jakarta tahu peristiwa ini, dia ikut bersedih tetapi dia merasa heran, katanya saya tidak terlihat sedih, kelihatan biasa-biasa saja. Memang, pada waktu itu, walaupun saya baru kehilangan laptop, benda yang telah menemani saya selama saya kuliah, saya tidak merasakan apapun. Baik itu sedih, sebal atau perasaan lainnya. Saya merasa biasa-biasa saja, seperti tak terjadi apa-apa. Saya hanya merasa sedih, ketika ada orang yang menyalahkan saya, bahkan seperti memarahi. Bukan saya tidak ingin disalahkan, tetapi menurut saya waktunya kurang tepat. Kami kan ceritanya sedang tertimpa musibah. Bahkan, orang-orang itu bersepakat untuk menutup kasus ini dan jangan sampai terdengar oleh telinga atasan. Karena, posisi mereka akan terancam. Saya merasa sudah jatuh tertimpa tangga pula. Kembali lagi, setelah saya merenungi perkataan teman saya itu, saya mendapatkan jawabannya kenapa saya ga merasa sedih walaupun sudah kehilangan laptop. Mungkin, karena selama ini saya tidak 'merasa' memiliki benda itu. Walaupun agak lama membersamainya, saya tidak 'merasa memilikinya. Mungkin, karena itulah saya tidak sedih.
Hal ini bisa jadi pelajaran buat kita semua, bisa dipraktekkan ke hal-hal yang lain yang pernah kita miliki, baik itu benda, manusia, kedudukan, jabatan dan lain sebagainya. Bahwa, kita jangan terlalu 'merasa' memiliki, karena akan ada saat dimana hal yang kita miliki itu bukan milik kita lagi. Supaya ga galau, ya itu antisipasinya ;)
3. Yang terakhir, dalam keadaan apa pun, bahkan dalam keadaan terburuk sekali pun, selalu ada hal yang kita syukuri. Dalam peristiwa ini, saya bersyukur 'hanya' benda-benda saja yang diambilnya, coba kalau sama yang lainnya, membayangkannya pun membuat saya merinding. Na'udzubillah.....
Pesan bang Napi:
"Kejahatan terjadi bukan karena ada niat saja, tetapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah. Waspadalah.