Pengikut

Minggu, 21 Februari 2016

Memiliki

01 April 2014. Tanggal ini akan selalu saya ingat. Karena, di hari itu saya mendapat teguran dari Allah.
Ceritanya begini, kalo ga salah tanggal 1 April waktu itu adalah hari selasa. Nah, pada hari seninnya kebetulan tanggal merah, kami para pengasuh dan anak jalan-jalan ke paniis. Kami berangkat jalan kaki dan pulang dengan menyewa angkot. Wah, kebayangkan capenya. Anak-anak juga langsung 'tepar' malamnya. Pada malam harinya, sebelum tidur, saya main fb dulu di hp. Tak lama kemudian, saya pun tidur. Pagi harinya, sekitar jam tujuh, saya mau beres-beres kamar. Membuka jendela, menyapu, ngepel. Pada saat membuka jendela ada yang agak aneh, jendelanya udah kebuka dan diganjal sama sama baju bekas. Saya belum berprasangka apa-apa, saya menyangka teman saya sudah membukanya. Ohya, disini kami tinggal bertiga. Kemudian, setelah selesai beres-beres, saya mau merekap administrasi pendaftaran santri baru, kebetulan tahun itu saya adalah panitia penerimaan santri baru. Saya bertanya pada teman yang kemarin piket, ada santri yang daftar, saya menanyakan uang pendaftarannya. Jawabnya, sudah disimpan di atas lemari. Saya cari ga ada, bahkan sampai ke sela-sela lemari, takut jatuh. Ga ada. Saya tanya lagi ke teman takut dia salah ingat, dia juga keukeuh kalau uangnya sudah disimpan di atas lemari saya. Ya sudahlah, batin saya kala itu. Nanti juga kalo rizkinya pasti ketemu. Atau kalo tidak nanti digantiin.
Kemudian, teman saya yang satu lagi, mendengar saya ribut-ribut nyari uang, dia langsung memeriksa kantong tempat menyimpan uang bendahara, kebetulan waktu itu dia jadi bendahara sementara, menggantikan bendahara yang sedang cuti melahirkan. Tiba-tiba, dia berkata dengan panik, kalau uang yang disimpan tidak ada, dicari lagi takut salah nyimpen, tetap ga ada. Ting...kami langsung teringat barang berharga kami yang lainnya. Laptop. Laptop itu disimpan di atas kasur. Dan, letak kasurnya persis di bawah jendela. Kemudian, kami langsung mencari laptop, hasilnya tetap nihil. Kami langsung sadar, bahwa kamar kami disatroni maling. Kebetulan jendela kamar kami pada malam itu ga dikunci, dibiarkan terbuka lebar. Kami lengah, karena kami merasa aman-aman saja selama ini, bahkan pintu pun jarang dikunci. Saya langsung teringat pada kain bekas yang mengganjal jendela. Saya tanyakan pada teman saya apakah mereka yang meletakkan kain itu. Dua-duanya menjawab tidak. Akhirnya, saya tahu dia lewat mana, karena kebetulan pintu dikunci, jadi keluar masuknya lewat jendela. Diganjal dengan kain mungkin takut berisik dan kami terbangun.
Ada banyak pelajaran dalam peristiwa itu :
1. Kita harus selalu waspada. Dimana pun dan kapan pun. Pastinya waspada yang sewajarnya.
2. Rasa memiliki yang sewajarnya. Ketika teman saya yang tinggal di Jakarta tahu peristiwa ini, dia ikut bersedih tetapi dia merasa heran, katanya saya tidak terlihat sedih, kelihatan biasa-biasa saja. Memang, pada waktu itu, walaupun saya baru kehilangan laptop, benda yang telah menemani saya selama saya kuliah, saya tidak merasakan apapun. Baik itu sedih, sebal atau perasaan lainnya. Saya merasa biasa-biasa saja, seperti tak terjadi apa-apa. Saya hanya merasa sedih, ketika ada orang yang menyalahkan saya, bahkan seperti memarahi. Bukan saya tidak ingin disalahkan, tetapi menurut saya waktunya kurang tepat. Kami kan ceritanya sedang tertimpa musibah. Bahkan, orang-orang itu bersepakat untuk menutup kasus ini dan jangan sampai terdengar oleh telinga atasan. Karena, posisi mereka akan terancam. Saya merasa sudah jatuh tertimpa tangga pula. Kembali lagi, setelah saya merenungi perkataan teman saya itu, saya mendapatkan jawabannya kenapa saya ga merasa sedih walaupun sudah kehilangan laptop. Mungkin, karena selama ini saya tidak 'merasa' memiliki benda itu. Walaupun agak lama membersamainya, saya tidak 'merasa memilikinya. Mungkin, karena itulah saya tidak sedih.
Hal ini bisa jadi pelajaran buat kita semua, bisa dipraktekkan ke hal-hal yang lain yang pernah kita miliki, baik itu benda, manusia, kedudukan, jabatan dan lain sebagainya. Bahwa, kita jangan terlalu 'merasa' memiliki, karena akan ada saat dimana hal yang kita miliki itu bukan milik kita lagi. Supaya ga galau, ya itu antisipasinya ;)
3. Yang terakhir, dalam keadaan apa pun, bahkan dalam keadaan terburuk sekali pun, selalu ada hal yang kita syukuri. Dalam peristiwa ini, saya bersyukur 'hanya' benda-benda saja yang diambilnya, coba kalau sama yang lainnya, membayangkannya pun membuat saya merinding. Na'udzubillah.....

Pesan bang Napi:
"Kejahatan terjadi bukan karena ada niat saja, tetapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah. Waspadalah.

Pejuang Shubuh

Jumat malam tanggal 12, di pondok kami mengadakan seminar membahas tentang valentine, mengenai ini sudah saya bahas di tulisan sebelumnya. Kali ini saya mau cerita tentang film yang kami tonton pada malam itu. Maaf kalo spoiler. Filmnya berjudul pejuang shubuh, terdiri dari tiga seri. Film ini adalah film karya filmmakermuslim yang bekerja sama dengan daqu movie yang ditayangkan di youtube. Inti cerita film ini tentang mendapatkan jodoh dengan rajin berjamaah shubuh di masjid.
Film ini dibintangi oleh Andre M. Addien sebagai Angga, Hidayaturrahmi sebagai Ratih dan juga para pemain pendukung lainnya. Film pertama, berkisah dari sudut pandang pemain utama prianya yang bernama Angga. Dia mempunyai pacar yang bernama Ratih. Setelah sekian lama pacaran, tiba-tiba Angga diputuskan oleh Ratih dengan alasan Angga bangunnya suka kesiangan dan telat shalat shubuh. Kata-kata yang selalu saya ingat adalah perkataan Ratih pada Angga, "gimana mau jadi pemimpin keluarga, mimpin diri sendiri juga belum bisa" :D kayaknya ngena banget. Masih dalam masa galau, datang lagi 'kemalangan' untuk Angga. Ayahnya berhenti mengiriminya uang, dia ingin anaknya berusaha mencari kerja, karena si Angga ini sudah lulus kuliah tapi belum juga punya pekerjaan. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, mungkin itu kata yang tepat menggambarkan keadaan Angga saat itu. Tetapi, Angga bukan tipe orang yang meratapi nasibnya. Akhirnya, dia meminta temannya yang rajin shalat shubuh di masjid untuk membangunkannya. Walau pertama kalinya susah, tetapi lama kelamaan akhirnya si Angga mampu bangun sendiri untuk shalat shubuh. Selain berjuang untuk bangun shubuh, dia juga berusaha mencari pekerjaan. Bersamaan dengan keberhasilan bangun shubuh, dia akhirnya mendapat kerja, dan ditempatkan di luar pulau. Sebelum berangkat, dia menitipkan surat untuk Ratih pada temannya. Isi suratnya saya lupa, bisa dilihat di youtube, yang pasti saya suka kata-kata dalam surat itu. Dua tahun kemudian, Angga kembali ke kotanya dan berniat melamar Ratih. Dia berhenti sejenak di sebuah masjid untuk melaksanakan shalat. Tak disangka, disana dia bertemu Ratih yang sedang menggendong anak. Angga terkejut dan terlihat kecewa, kita yang sedang menontonnya juga merasa kecewa, melihat perjuangan Angga selama ini untuk menggapai mimpi dan cintanya, masa harus berakhir seperti itu sih. Tak lama kemudian, datang seorang laki-laki menghampiri Ratih, yang dikenalkan Ratih sebagai kakaknya dan anak yang sedang digendongnya adalah keponakannya. Angga langsung menghembuskan nafas keras. Sama seperti kami yang sedang menontonnya. Kayaknya si Angga dari tadi menahan nafas deg, hahaha. Keren deh pokoknya film ini.
Ini nih gambarnya Angga. Setelah melihat film ini, saya langsung mencari tahu tentang dia :D

Kamis, 18 Februari 2016

BOBO

BOBO. Siapa yang tidak tahu majalah ini. Bobo adalah majalah anak-anak. Selain sebagai hiburan, BOBO juga sumber pengetahuan dan informasi. Majalah ini terbit seminggu sekali, setiap hari kamis.Pertama kali terbit sudah lama sekali, tepatnya saya kurang tahu :P yang pasti ibu-ibu yang sekarang punya anak, mereka pernah membaca atau setidaknya mendengar majalah ini ketika masih kanak-kanak. Pun dengan saya. Sejak kecil saya suka membaca. Apapun selalu dibaca. Salah satunya majalah BOBO. Walaupun dulu belum mampu berlangganan, saya cukup sering membacanya. Dengan umur saya yang sekarang sudah pantas memiliki anak, kebiasaan membaca majalah ini tidak hilang. Mungkin agak sedikit berbeda sudut pandangnya. Kalau dulu, saya membaca majalah bobo 'hanya' sebagai hiburan saja. Tetapi sekarang saya punya tujuan lain. Di dalam majalah ini ada cerpen dan dongeng anak, dengan seringnya membaca dongeng, saya ingin meningkatkan kemampuan bercerita saya, yang insya Allah akan bermanfaat. Juga dengan mengoleksi majalahnya, saya sudah menyicil bahan-bahan bacaan untuk anak saya kelak ;)
Yang terakhir, saya ingin menjadi seorang penulis. Yang dengan tulisan saya bisa menginspirasi banyak orang, seperti penulis favorit saya. Ini mimpi saya. Mulai dari yang 'kecil'. Itulah kenapa setiap update status di facebook, saya suka sambil bercerita, karena saya ingin melatih kemampuan menulis saya. Kini saya punya blog sederhana, apa yang saya pikirkan, saya tuangkan disini. Walaupun banyak malasnya :D
Ada satu peristiwa menarik. Tadi malam, saya buka-buka artikel di google, mencari informasi mengenai tips membuat cerpen ataupun dongeng anak. Nah, barusan ketika ada bapa koran, saya membeli majalah BOBO, saya liat di covernya ada tulisan "Tips membuat dongeng". Hmm, membaca ini membuat saya berpikir banyak hal, apakah ini pertanda saya harus 'melanjutkan' mimpi saya? :) doain yaaa....

Senin, 15 Februari 2016

Seminar

Hmm...sudah lama ya saya ga posting sesuatu. Padahal, niatnya minimal satu hari satu postingan, biar semakin terasah insting menulisnya. Tapi, tetep aja kalo lagi males mah, hehe..
Kali ini, saya mau cerita tentang kegiatan di asrama dimana saya tinggal sekarang. Pada tanggal 12 kemarin, ustadz kami mengadakan seminar. Beliau mengundang para santri dan murid untuk menghadiri acara itu. Seminar ini diadakan sengaja menjelang valentine, karena temanya memang tentang valentine, bagaimana kita sebagai muslim menyikapinya. Seminar ini terdiri dari empat sesi. Dua sesi pertama, diisi oleh dua ustad kami tentang bahayanya valentine dan pacaran. Di sesi ketiga, kami menonton ceramah ustad felix siauw on you tube. Dan, di sesi keempat, kami menonton film pendek karya anak bangsa, tentang...apa ya, saya bingung menjelaskannya, hehe.. insya Allah di postingan selanjutnya, saya akan bahas tentang film pendek itu. Judulnya pejuang shubuh. Ohya, seminar kemarin saya lupa mendokumentasikan acaranya. Jadi, ga bisa liat ustadz2 ganteng lagi ceramah. :P

Kamis, 04 Februari 2016

Keniscayaan

Terakhir kali melihatnya, ketika idul fitri tahun lalu. Kami jarang bertemu, karena dia dengan ayahnya-paman saya-, tinggal di ibukota. Praktis kami bertemu hanya ketika lebaran saja, itupun kalau mudik ke kampung kami. Perawakannya yang melebihi berat badan ideal, membuat dia jadi bahan 'becandaan' kami sekeluarga. Ketika kakak sepupu kami menikah, dia tidak datang. Menurut paman, dia baru sembuh dan keluar dari rumah sakit. Lambungnya kena dan sudah parah. Penyebabnya karena sering mengkonsumsi mie instan. Dan, dua hari yang lalu, saya mendapat kabar dari adik sepupu saya yang lain, bahwa dia telah meninggal dunia. Walaupun kami tidak begitu dekat, selain karena intensitas pertemuan, juga umur kami agak jauh, tapi seperti kata pepatah "darah lebih kental daripada air", mendengar berita itu membuat saya menangis juga. ;) mungkin lebaran tahun depan, gak akan ada yang 'menumpang' mandi lagi.

Senin, 01 Februari 2016

SimCity

Akhir-akhir ini, saya sedang keranjingan bermain game. Simcity nama gamenya. Cara memainkan game ini susah-susah gampang. Sesuai dengan namanya, kita harus membangun suatu kota yang bagus dan nyaman serta membuat warganya bahagia. Kita berperan sebagai wali kota, harus berpikir bagaimana membuat nyaman warga di bawah kepemimpinan kita. Dan, jangan sampai ada yang pindah ke kota lain. Indeks kebahagiaan warga bisa kita liat. Dari game ini saya belajar cara kerja seorang kepala daerah. Mulai dari menyediakan sarana umum, seperti jalan, taman, dan dari mana mendapatkan dananya. Juga tentang pajak. Menerima keluhan juga aspirasi warga, sebagai masukan untuk kemajuan kota. Juga bagaimana membuat tata letak kota yang indah, tidak semrawut. Game ini mengingatkan saya akan hadits Nabi yang menyebutkan 7 golongan ahli surga. Salah satunya adalah pemimpin yang adil, bahkan di urutan pertama. Memang bisa difahami, seorang pemimpin yang adil, yang menempatkan sesuatu sesuai porsinya, termasuk golongan ahli surga. Amanah yang dipikulnya sangatlah berat, menyangkut kehidupan banyak orang, belum  godaan2 yang harus dihadapinya. Tapi, jika dia mampu melewati itu semua, insya Allah dia akan termasuk golongan yang disebutkan Nabi kita.