Pengikut

Minggu, 31 Januari 2016

Sepotong Bulan untuk Berdua

Hari ini, saya sedang tidak ada ide apapun untuk membuat tulisan. Jadi,  saya mau posting salah satu sajak karya bang Tere yang saya sukai.
Here we go.

SEPOTONG BULAN UNTUK BERDUA

Saat dikau menatap bulan
Yakinlah kita melihat bulan yang sama
Mensyukuri banyak hal
Berterima kasih atas segalanya
Terutama atas kesempatan untuk saling mengenal
Esok pagi semoga semuanya dimudahkan

Malam ini
Saat dikau menatap bulan
Yakinlah kita menatap bulan yang satu
Percaya akan kekuatan janji-janji masa depan
Keindahan hidup bersama, berbagi, dan bekerja keras
Mencintai sekitar dengan tulus dan apa adanya

Malam ini
Saat dikau menatap bulan
Yakinlah kita menatap bulan yang itu
Semoga Yang Maha Memiliki Langit memberikan kesempatan
Suatu saat nanti
Kita menatap bulan
Dari satu bingkai jendela.

Indah kan?! :) saya selalu bermimpi, akan ada seseorang yang membacakan sajak itu untuk saya dengan sepenuh hati..

Sabtu, 30 Januari 2016

HUJAN

Siapa yang tidak kenal Tere Liye. Penulis paling produktif di Indonesia. Dan, setiap karyanya selalu best seller, dicetak ulang sampai belasan kali. karya bang Tere, begitulah beliau disapa, tidak terfokus pada satu genre saja. Setiap genre, saya kira, sudah ada novelnya. Ah, tidak perlu dijelaskan panjang lebar ya, karena semua mungkin udah tau siapa bang Tere, bahkan mungkin fansnya, sama seperti saya :) Saat ini, saya hanya ingin menulis kesan saya tentang novel terbarunya yang berjudul 'HUJAN'. Maaf kalo spoiler. Novel ini ber-genre roman, artinya tentang perasaan. Ekhem... :D yang tidak saya duga, novel ini berlatar masa depan, menceritakan manusia di tahun 2043 dengan segala kecanggihan teknologinya. Tetapi, walaupun teknologinya di masa depan yang belum ada di zaman sekarang, kita tidak sulit membayangkan kecaanggihan gadget di novel itu. Karena, bang Tere menjelaskannya dengan bahasa yang sederhana dan mudah difahami, khas bang Tere. Novel itu juga membahas tentang isu2 global, seperti bencana alam, baik itu yang dikarenakan ulah manusia atau memang sudah siklusnya.
Banyak sekali pengetahuan di dalamnya. Tentang siklus meletusnya gunung. Tentang hujan asam. Saya kagum dengan bang Tere, yang saya tahu beliau adalah akuntan-ahli ekonomi-, tentu membutuhkan riset dulu tentang itu semua. Terus, cerita tentang perasaannya mana? Lebih baik baca sendiri agar lebih seru :) yang pasti, novel ini tidak sama dengan novel roman bang Tere yang sebelumnya, seperti 'Sunset bersama Rossie' atau 'Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin', yang membuat para pembaca belum bisa move on sampai sekarang. Galau tingkat dewa, hehe.
"Sesungguhnya, bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan".

Selamat membaca :)

Jumat, 29 Januari 2016

Angkot

Liburan semester kemarin, saya ke cikarang menghadiri pernikahan kakak sepupu saya. Kami berangkat rombongan, kalau tidak salah ada empat mobil. Ada kejadian menarik di tengah perjalanan. Setelah keluar tol, mobil yang saya tumpangi berhenti di pinggir jalan, menunggu mobil paman saya, karena beliau belum tahu rute ke rumah kakak sepupu saya. Sambil menunggu, kami keluar dulu menghirup udara segar. Kemudian ada angkot melintas, memberi klakson tanda menanyakan mau naik atau tidak. Lalu saya melambaikan tangan isyarat menolak tawaran sang supir. Tiba2 adik laki-laki saya nyeletuk: "ngapain teteh dadah-dadahan? Centil ih"
"Bukan centil, tadi nawarin tumpangan, teteh menolaknya dengan lambaian tangan". Jawab saya,
"Ya udah, cuekin aja, pura- pura ga liat." Kata adik saya lagi,
"Pura-pura ga liat gimana, orang angkotnya melintas di depan kita. Lagian, kalopun kita ga akan naik angkotnya apa salahnya kita menolak dengan sopan". Kata saya berapi-api. Perdebatan ini mengingatkan saya akan keinginan saya dulu untuk update status di facebook tentang hal ini.
Saya adalah angkot lover :D kemana-mana dengan jarak yang masih bisa dicapai angkot, saya lebih memilih naik angkot. Saya merasa nyaman, karena supirnya tidak ugal-ugalan. Apalagi rute angkot, adalah rute jarak dekat, sehingga para penumpangnya-yang kebanyakan ibu2- sudah saling mengenal, sehingga atmosfir kekeluargaannya terasa sekali. Saya selalu suka kalau mereka sedang ngobrol, mendengarkan dengan takzim sambil senyum2 sendiri, sesekali menganggukkan kepala ketika ada ibu2 yang menoleh pada saya. Itu sensasi yang selalu saya sukai di angkot. Apalagi kalau ada penumpang yang ngajak becanda supir. Berbicara mengenai supir, adalah tugas mereka mencari penumpang sebanyak-banyaknya. Ketika ada yang berdiri di tengah jalan, ditawari, menggelengkan kepala. Tak apa, melaju lagi, mencari penumpang. Yang selalu bikin saya sebal, kalau ada penumpang yang ditawari supir, dia pura-pura ga liat sambil memalingkan muka. 'Diklaksonin', ditanya ga dijawab. Dipikirnya, sang supir mau maksa naik mungkin. Siapa yang ga bete. Saya aja yang melihatnya suka bete, apalagi supir.
Mudah2an aja yang berpikir seperti itu sudah ga ada lagi.

Kamis, 28 Januari 2016

Teledor

Dua minggu setelah membuat blog, saya kena musibah. Hp saya hilang. Walaupun karena keteledoran saya juga, hehe. Ceritanya begini, waktu itu saya kebagian jadi panitia ujian pondok, tepatnya jadi sekretaris. Membuat jadwal, menggandakan soal & lembar jawaban, juga hal2 lainnya yang berhubungan dengan tugas saya sebagai sekretaris. Pada hari itu, saya berniat menggandakan soal & lembar jawaban, agar segera di pak & pekerjaan satu persatu selesai. Karena tempat photo copy di pondok kami sedang tutup, maka saya menggandakannya di luar. Tempatnya tidak begitu jauh, tapi kalau jalan kaki capek juga, hehe. Setelah selesai digandakan, ternyata cukup banyak juga, satu kardus HVS. Akhirnya, saya naik angkot, dan penumpangnya hanya saya seorang sampai saya turun. Setibanya di kantor pondok, saya mau sms teman saya. Ketika saya mau ambil hp di saku rok, kok ga ada. Padahal saya yakin saya nyimpennya di sana. Akhirnya, saya dan orang2 yang ada di sana sibuk mencari hp. Ditelpon nyambung bahkan diangkat, diajak bicara ga ada yang jawab. Ya sudahlah, mungkin memang bukan rizki saya. Akhirnya, saya merelakan hp itu dan membeli hp yang baru, tapi saya belum mampu beli yang android -harus nabung dulu-. Itulah akibat dari keteledoran saya. Banyak dugaan tapi yang paling kuat dan masuk akal, hp itu jatuh ketika saya mau mengambil ongkos angkot. Semoga saja hal seperti itu tidak terulang lagi, kepada siapa pun.

Siapa sangka

Ketika masih kecil kami sering bermain bersama, berenang di sungai, berlarian di pematang sawah. Tak lama terdengar kabar ternyata sudah melihat dunia, mengunjungi tempat2 eksotis, melakukan banyak hal. Ketika masih belajar di kelas yang sama, kami saling membantu dalam pelajaran, baik pelajaran bahasa Arab, Inggris ataupun Jerman. Tak lama terdengar kabar ternyata sedang menyelesaikan master di negeri para Tsar. Ketika masih tidur bareng2 di asrama, ngeloghat bareng, dijilid bareng, hafalan bareng. Berbilang taun, banyak kabar berdatangan. Suka maupun duka. Siapa sangka teman yang dulu pernah duduk bersama, kini sudah tenang di sisi Sang Pencipta. Siapa sangka teman bercerita dulu, sekarang telah jadi 'madrasatul ula'. Siapa sangka adik kelas yang dulu pernah ditenangin karena nangis ga betah, sekarang telah menggenapkan separuh agamanya. Tak ada yang tau, jadi apa kita di masa depan. Semua adalah rahasiaNya, agar manusia mau terus berusaha. Dan aku tau, mereka adalah orang yang mau terus berusaha.