Pengikut

Jumat, 29 Januari 2016

Angkot

Liburan semester kemarin, saya ke cikarang menghadiri pernikahan kakak sepupu saya. Kami berangkat rombongan, kalau tidak salah ada empat mobil. Ada kejadian menarik di tengah perjalanan. Setelah keluar tol, mobil yang saya tumpangi berhenti di pinggir jalan, menunggu mobil paman saya, karena beliau belum tahu rute ke rumah kakak sepupu saya. Sambil menunggu, kami keluar dulu menghirup udara segar. Kemudian ada angkot melintas, memberi klakson tanda menanyakan mau naik atau tidak. Lalu saya melambaikan tangan isyarat menolak tawaran sang supir. Tiba2 adik laki-laki saya nyeletuk: "ngapain teteh dadah-dadahan? Centil ih"
"Bukan centil, tadi nawarin tumpangan, teteh menolaknya dengan lambaian tangan". Jawab saya,
"Ya udah, cuekin aja, pura- pura ga liat." Kata adik saya lagi,
"Pura-pura ga liat gimana, orang angkotnya melintas di depan kita. Lagian, kalopun kita ga akan naik angkotnya apa salahnya kita menolak dengan sopan". Kata saya berapi-api. Perdebatan ini mengingatkan saya akan keinginan saya dulu untuk update status di facebook tentang hal ini.
Saya adalah angkot lover :D kemana-mana dengan jarak yang masih bisa dicapai angkot, saya lebih memilih naik angkot. Saya merasa nyaman, karena supirnya tidak ugal-ugalan. Apalagi rute angkot, adalah rute jarak dekat, sehingga para penumpangnya-yang kebanyakan ibu2- sudah saling mengenal, sehingga atmosfir kekeluargaannya terasa sekali. Saya selalu suka kalau mereka sedang ngobrol, mendengarkan dengan takzim sambil senyum2 sendiri, sesekali menganggukkan kepala ketika ada ibu2 yang menoleh pada saya. Itu sensasi yang selalu saya sukai di angkot. Apalagi kalau ada penumpang yang ngajak becanda supir. Berbicara mengenai supir, adalah tugas mereka mencari penumpang sebanyak-banyaknya. Ketika ada yang berdiri di tengah jalan, ditawari, menggelengkan kepala. Tak apa, melaju lagi, mencari penumpang. Yang selalu bikin saya sebal, kalau ada penumpang yang ditawari supir, dia pura-pura ga liat sambil memalingkan muka. 'Diklaksonin', ditanya ga dijawab. Dipikirnya, sang supir mau maksa naik mungkin. Siapa yang ga bete. Saya aja yang melihatnya suka bete, apalagi supir.
Mudah2an aja yang berpikir seperti itu sudah ga ada lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar